Sabtu, 06 April 2013

ASKEP LEUKEMIA


TINJAUAN TEORI

A.     Pengertian
Leukemia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel pembentuk darah dalam sum-sum tulang dan limfa nadi ( Reeves, 2001 ).
Leukemia adalah kangker jaringan yang menghasilkan lekosit ( Cecly L. Dezt, 1987 ).
Leukemia adalah kangker yang timbul pada organ pembentukan darah pada tubuh   ( Marilynn E. Doenges, 2002 ).
Dari ketiga pengertian diatas dapat disimpulkan Leukemia adalah kangker jaringan yang menghasilkan lekosit yang abnormal dimana lekosit menyusup kedalam sus-sum tulang dan menggantikan sel-sel pembentuk darah yang normal.

B.      Patofisiologi
ALL adalah kangker jaringan yang menghasilkan lekosit yang abnormal dalam jumlah berlebihan dan lekosit-lekosit tersebut menyusup kebagian organ tubuh menggantikan unsure-unsur yang normal dalam sum-sum tulang, akibatnya timbul anemia dan dihasilkan eritrosit dalam jumlah yang tidak mencukupi. Timbulnya perdarahan akibat menurunnya jumlah trombosit yang bersirkulasi. Infeksi juga terjadi lebih sering karena kurangnya jumlah lekosit. Penyusupan sel-sel leukemia ke dalam organ-organ vital menimbulkan hepatomegali, splenomegali dan limfadenopati.

C.      Tanda dan gejala
                                          1.            Aktivitas :
Kelelahan, kelemahan, malaise, kelelahan otot.
                                          2.            Sirkulasi :
Palpitasi, takikardi, mur-mur jantung, membran mukosa pucat.

                                          3.            Eliminasi :
Diare, nyeri tekan perineal, feces hitam, penurunan pengeluaran urine.
                                          4.            Integritas ego :
Mudah terangsang, ansietas.
                                          5.            Makanan / cairan :
Muntah,penurunan berat badan dan disfagia.
                                          6.            Nyeri :
Nyeri abdomen, nyeri sendi.
                                          7.            Pernafasan :
Nafas pendek, batuk, takipneu, ronkhi, penurunan bunyi nafas.
                                          8.            Keamanan :
Demam infeksi, pembesaran nodus limfe.

D.     Penatalaksanaan
1.            Pelaksanaan kemoterapi
2.            Irradiasi cranial
3.            Terdapat tiga fase pelaksanaan kemoterapi :
a).  Fase induksi :
Dimulai 4-6 minggu setelah diagnose ditegakan, pada fase ini diberikan    terapi kortikosteroid ( prednisone ), vincristin dan L. asparaginase. Fase   induksi dikatakan berhasil bila tanda-tanda penyakit berkurang dan didalam sum-sum tulang ditemukan jumlah sel muda kurang dari 5%.
b). Fase profilaksis system saraf pusat :
Pada fase ini diberikan terapi methotrexate, cytarabine dan hidrokortison melalui intrathekal untuk mencegah invasi sel leukemi ke otak.
Terapi irradiasi  cranial dilakukan hanya pada pasien leukemia yang mengalami gangguan saraf pusat.
c).  Konsolidasi :
Pada fase ini kombinasi pengobatan dilakukan untuk mempertahankan remisis dan mengurangi jumlah sel-sel leukemia yang beredar dalam tubuhsecara berkala, mingguan atau bulanan. Dilakukan pemeriksaan darah lengkap untuk menilai respon sum-sum tulang terhadap pengobatan, jika terjadi supresi sum-sum tulang maka pengobatan dihentikan seentara atau dosis obat dikurangi.
E.      Konsep tumbuh kembang, bermain, nutrisi dan dampak hospitalisasi pada anak berumur 21 bulan.
1.Pertumbuhan
Pertumbuhan adalah suatu proses alamiah yang terjadi pada setiap individu yaitu secara bertahapanak akan semakin bertambah berat dan semakin tinggi, pertumbuhan diatur sebagai suatu peningkatan ukuran tubuh yang dapat diukur dengan meter atau centi meter untuk tinggi badan dan kilogram atau gram untuk berat badan .
2.Perkembangan
Perkembangan menurut Sigmund freud adalah anak pada usia 21 bulan
Pada fase anal fungsi tubuh yang member kepuasan sekitar anus, bab/bak senang melakukan sendiri, bila tidak dilakukan dengan baik akan menahan dan melakukannya dengan mempermainkannya. Pekembangan sensorik motorik kasar  anak mampu berlari-lari, naik tangga sendiri dengan kedua kaki tiap tahap. Motorik halus anak mampu membuka pintu, buka kunci, menggunting, minum menggunakan gelas, menggunakan sendok dengan baik.perkembangan psikososial menurut Erikson 1963 otonomi VS malu dan ragu, alat gerak dan rasa sudah matang dan ada rasa percaya terhadap ibu dan lingkungan.perkembangan kognitif menurut Jean piaget fase sensori motor segala usaha ditirukan untuk memuaskan kebutuhan dan kesenangan, kebutuhan banyak bersifat fisik berbagai gerakan makin terkoordinasi, terarah dan bertujuan.


3.Nutrisi
a). sumber makanan oral
         1). Air susu ibu adalah sumber makanan lengkap yang paling disenangi selama 6 bulan pertama, air susu ibu secara gizi adalah yang paling unggul, aman dari bakteri dan sedikit mnyebabkan alergi, air susu ibnu juga mengandung factor anti infeksi dan sel-selimun.
  2).  Produk susu formula diperkaya zat besi yang siap saji adalah pilihan selain asi yang dapat diterima. Asupan susu formula bervariasi pada setiap bayi, tetapi asupan rata-rata adalah 113 gram enam kali perhari.
    3).   Kebutuhan air rata-rata 120-135 ml/kg/hari.
    4). Makanan padat sudah dapat diberikan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.
4.    Bermain bermain merupakan tugas anak
      a.   bermain mencerminkan perkembangan dan kesadaran terhadap linkungan.
      b.   bermain terutama secara mandiri.
      Tujuan bermain adalah sebagai berikut :
a.      Menstimulasi perkembangan psikologis.
b.      Member pengalihan dari rasa bosan, nyeri, dan rasa tidak nyaman.
c.       Menyediakan alat untuk komunikasi dan mengepresikan perasaan.
                    d.    Membantu mengembangkan keterampilan sensorik motorik
5.   Dampak hospitalisasi
      Hospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu alas an yang berencana atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal dirumah sakit, menjalani terapi dan perawatannya sampai pemulangannya kembali kerumah. Selama proses tersebut, anak dan orang tua dapat mengalami berbagai kejadianyang menurut beberapa peneliti yang ditujukan dengan pengalaman yang sangat raumatik dan penuh dengan stress, masalah utama yang terjadiadalah karena dampak dari perpisahan dengan orang tua sehingga ada gangguan pembentukan rasa percaya dan kasih saying. Pada anak lebih dari 6 bulan terjadi stranger anxiety atau cemas apabila berhubungan dengan orang yang tidak dikenalnyadan cemas karena perpisahan. Reaksi ang sering muncul pada anak usia ini adalah menangis, marah, dan banyak melakukan gerakan sebagai sikap stranger anxiety. Bila ditinggalkan ibunya prilaku yang ditunjukan adalah dengan menangis keras respon terhadap nyeri atau adanya perlukaan biasanya menangis keras, pergerakan tubuh yang banyak, dan ekspresi wajah yang tidak menyenangkan.  

F.       Pengkajian
Hal-hal yang perlu dikaji pada lien dengan leukemia adalah sebagai berikut :
1.            Riwayat penyakit : pengobatan kangker sebelumnya.
2.            Riwayat keluarga : adanya gangguan hematologis, adanya factor herediter mis kembar monozigot.
3.            Kaji adanya tanda-tanda anemi : kelemahan, kelelahan, pucat, sakit kepala, anoreksia, muntah, sesak,  nafas cepat.
4.            Kaji adanya tanda-tanda leucopenia : demam, stomatitis, gejala infeksi pernafasan atas, infeksi perkemihan.
5.            Kaji adanya tanda-tanda trombositopenia : ptechiae, purpura, perdarahan membrane mukosa, pembentukan hematoma.
6.            Kaji adanya pembesaran testis, hematuria, hipertensi, gagal ginjal, imflemasi sekitar rektaldan nyeri.

G.     Diagnose keperawatan dan intervensi
1.            Resiko tinggi infeksi b/d menurunnya system pertahanan tubuh sekunder gangguan pematangan SDP, peningkatan jumlah limfosit imatur, imonosupresi, penekanan sum-sum tulang.
Tujuan :
Pasien bebas dari infeksi.
KH :
a.      Hormotermia.
b.      Hasil kultur (-).
c.       Peningkatan penyembuhan.
Intervensi :
a.      Tempatkan pada ruangan khusus, batasi pengunjung.
b.      Cuci tangan untuk semua petugas dan pengunjung.
c.       Awasi suhu, perhatikan hubungan antara peningkatan suhu dengan    
       pengobatan kemoterapi.
d.      Cegah menggigil : tingkatkan cairan, berikan mandi kompres.
e.      Dorong sering mengubah posisi, nafas dalam dan batuk.
f.        Auskultasi bunyi nafas, ronkhi, inspeksi sekresiterhadap perubahan    
       karakteristik.
g.      Inspeksi kulit untuk yeri tekan, eritematosa.
h.      Inspeksi membrane mukosa mulut.
i.        Tingkatkan kebersihan perineal.
j.        Berikan periode istirahat tanpa gangguan.
k.       Dorong peningkatan masukan tinggi protein dan cairan.
l.        Hindari prosedur invasive bila mungkin.
m.    Kolaborasi :
       1). Beri obat sesuai indikasi
       2). Hindari antipiretik yang mengandung aspirin.

2.            resiko tinggi kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan : muntah, perdarahan, diare.  penurunan pemasukan cairan : mual, anoreksia. Peningkatan kebutuhan cairan : demam, hipermetabolik.
Tujuan :
Volume cairan terpenuhi.
KH :
a. volume cairan adekuat.
b. mukosa lembab.
c. tanda vital stabil : TD 90/60 mmHg,   N 100x/mt, Rr 20x/mt.
d. nadi teraba
e. keluaran urine 30 ml / jam.
                          f. kapiler refill < 2 detik.
 Intervensi :
a. awasi masukan / keluaran.
b. timbang BB tiap hari.
c. awasi TD dan frekwensi jantung.
d. evaluasi tugor kulit, pengisian kapiler dan kondisi membrane mukosa.
e. beri masukan cairan 3-4 liter / hari.
 f.  inspeksi kulit untuk ptekie, area ekimosis, perhatikan perdarahan gusi,     
       darah warna karat, samar pada faeces dan urine : perdarahan lanjut dari 
       sisi tusukan invasif.
g. implementasi tindakan untuk mencegah cedera jaringan.
h. batasi perawatan oral untuk mencuci mulut bila diindikasikan.
                           i.  beri diet halus.
                           j.  kolaborasi :
    1). Beri cairan IV sesuai indikasi.
 2). Awasi pemeriksaan lab.
 3). Beri SDM, trombosit, factor pembekuan.
 4). Pertahankan alat akses vascular sentral.
 5). Beri obat sesuai indikasi.

3.            Nyeri b/dagen fisikal seperti pembesaran organ/ nodus limfe, sum-sum  
            tulang yang dikemas dengan sel leukemia : agen kimia pengobatan anti
            leukemik.
Tujuan :
Nyeri teratasi
KH :
a.   Kaji keluhan nyeri.
b.   Awasi tanda vital, perhatikan petunjuk non verbal mis tegangan otot,gelisah.
c.    Beri lingkungan tenang dan kurangi rangsangan penuh stress.
d.   Tempatkan pada posisi nyaman dan sokong sendi, ektremitas dengan bantal.
e.   Ubah posisi secara periodic dan bantu latihan rentang gerak lembut.
f.     Berikan tindakan kenyamanan.
g.   Kaji ulang intervensi kenyamanan pasien sendiri.
h.   Evaluiasi dan dukungmekanisme koping pasien.
i.     Dorong untuk tehnik manajemen nyeri.
j.     Bantu aktivitas terapeutik, tehnik relaksasi.
k.    Kolaborasi :
1). Awasi keadaan asam urat.
2). Beri obat sesuai indikasi.
3). Agen anti ansietas.

4.   Intolerasi aktivitas b/d kelemahan umum, peningkatan laju metabolic.
      Tujuan :
      Klien mampu mentoleransi aktivitas.
      KH :
a.   Peningkatan toleransi aktivitas yang dapat diukur.
b.   Berpartisipasi dalam aktivitas yang dapat diukur.
c.    Menunjukan penurunan tanda tanda fisiologis tidak toleran.
Intervensi :
a.   Evaluasi laporan kelemahan, perhatikan ketidak mampuan untuk berpartisifasi dalam beraktivitas.
b.    Implementasi tehnik penghematan energy.
c.    Jadwalkan makan sekitar kemoterapi.
d.   Kolaborasi :
1). Beri O2 tambahan .

5.            Resiko terjadi perdarahan b/d trombositopenia.
         Tujuan :
         Pasien bebas dari gejala perdarahan.
         KH :
a.   TD 90/60 mmHg.
b.   N 100x/mt.
c.    Ekresi dan sekresi negative terhadap darah.
d.   HT 40-50% (laki-laki), 37-47% (perempuan).
e.   HB 14-18 gr %.

                        Intervensi :
a.   Pantau hitung trombosit dengan jumlah 50.000 / ml, resiko terjadi perdarahan, pantau HT dan HB terhadap tanda perdarahan.
b.   Meminta pasien untuk mengingatkan perawat bila ada rembesan darah dari gusi.
c.    Inspeksi kulit, mulut, hidung, urine, faeces, muntahan dan tempat tusukan IV terhadap pendarahan.
d.   Pantau TV interval sering dan waspadai tanda pendarahan.
e.   Gunakan jarum ukuran kecil.
f.     Jika terjadi pendarahan, tinggikan bagian yang sakit dan berikan kompres dingin dan tahan perlahan.
g.   Beri bantalan tempat tidur untuk menghindari trauma.
h.   Anjurkan pada pasien untuk menggunakan sikat gigi halus/ pencukur listrik.

6.            Perubahan perfusi jaringan b/dterhentinya aliran darah sekunder adanya destruksi SDM.
Tujuan :
Perfusi adekuat.
KH :
a.   Masukan dan keluaran seimbang.
b.   Keluaran urine 30 ml/jam
c.    Kapiler refill < 2 detik.
d.   Tanda vital stabil.
e.   Nadi perifer kuat terpalpasi.
Intervensi :
a.   Awasi tanda vital.
b.   Kaji kulit untuk rasa dingin, pucat, kelembaban, pengisian kapiler.
c.    Catat perubahan tingkat kesadaran.
d.   Pertahankan masukan cairan adekuat.
e.   Evaluasi terjadinya edema.
f.     Kolaborasi :
1). Awasi pemeriksaan lab : GDA, AST/ALT, CPK, BUN.
2). Elektrolit serum, berikan pengganti sesuai indikasi.
3). Beri cairan hipoosmolar.


DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth. (2002). Text Book of Medical – Surgical Nursing (Agung, Penerjemah). Philadelphia :  Lippincott (Sumber asli diterbitkan 1997).

Doenges, M. (2000). Nursing Care Planns (I Made Kariasa, Penerjemah). Philadelphia. F.A Davis Company. (Sumber asli diterbitkan 1993).

Wong L, Donna, Buku Ajar Keperawatan Peditrik. Jakarta: EGC, 2009
Carpenito, Lynda Jual, Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8. Jakarta: EGC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar