Sabtu, 15 Desember 2012

ASKEP HIPOSPADIA


TINJAUAN TEORI

A.     Pengertian
 Hypospadia adalah kelainan bawaan berupa lubang urethra yang terletak di bagian bawah dekat pangkal penis (Ngastiyah, 2005).

Hypospadia adalah kongenital anomali yang mana urethra bermuara pada sisi bawah penis /perineum (Suriadi dan Rita Yuliani, 2001).

Hypospadia adalah suatu kelainan bawaan (Konsenital) dimana meatus urethra eksternus terletak di permukaan ventral penis dan lebih ke proksimal dari tempatnya yang normal pada ujung penis (Fitri purwanto, 2001).

Hypospadia adalah suatu keadaan dimana lubang urethra terdapat dipenis bagian bawah bukan ujung penis (www.bloyspot.com).

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Hypospadia adalah suatu kelainan bawaan dimana letak lubang urethra tidak pada tempat yang semestinya, melainkan ada dibagian bawah penis.

B.     Patofisiologi
Penyebab dari Hypospadia belum diketahui secara jelas dan dapat dihubungkan dengan faktor genetik dan pengaruh Hormonal. Pada usia gestasi Minggu ke VI kehamilan terjadi pembentukan genital, pada Minggu ke VII terjadi agenesis pada msoderm sehingga genital tubercel tidak terbentuk, bila genital fold gagal bersatu diatas sinus urogenital maka akan timbul Hypospadia.

Perkembangan urethra dalam utero dimulai sekitar usia 8 minggu dan selesai dalam 15 minggu, urethra terbentuk dari penyatuan lipatan urethra sepanjang permukaan ventral penis. Glandula Urethra terbentuk dari kanalisasi furikulus ektoderm yang tumbuh melalui glands untuk menyatu dengan lipatan urethra yang menyatu. Hypospadia terjadi bila penyatuan digaris tengah lipatan urethra tidak lengkap sehingga meatus urethra terbuka pada sisi ventral penis. Derajat kelainan letak ini antara lain seperti pada glandular (letak meatus yang salah pada glans), Korona (pada Sulkus Korona), penis (disepanjang batang penis), penuskrotal (pada pertemuan ventral penis dan skrotum) dan perineal (pada perinium) prepusium tidak ada pada sisi ventral dan menyerupai topi yang menutupi sisi darsal gland. Pita jaringan fibrosa yang dikenal sebagai Chordee, pada sisi ventral menyebabkan kuruatura (lingkungan) ventral dari penis. Pada orang dewasa, chordec tersebut akan menghalangi hubungan seksual, infertilisasi (Hypospadia penoskrotal) atau (perineal) menyebabkan stenosis meatus sehingga mengalami kesulitan dalam mengatur aliran urine dan sering terjadi kriotorkidisme.

Klasifikasi Hypospadia adalah tipe glandulan (balantik) yaitu meatus terletak pada pangkal penis, tipe distal penil yaitu meatus terletak pada distal penis, tipe penil yaitu meatus terletak antara perineal dan scrotum, tipe scrotal yaitu meatus terletak di scratum, tipe perineal yaitu meatus terletak di perineal.

Komplikasi pada Hypospadia adalah infertilisasi risiko hernia inguinalm gangguan psikososial.

C.     Penatalaksanaan
1.      Penatalaksanan medis yaitu dengan tindakan pembedahan yang berfokus pada rekontruksi leher pada bledder, dimana dilakukan dalam 2 tahap yaitu : tahap 1: chordec eksisi (Jaringan Fibrosa), tujuannya adalah untuk meluruskan penis, tahap II yaitu : Urethroplasty, tujuannya untuk membuat saluran uretra agar ove verada dipuncak penis sehingga pancaran urine menjadi normal. Selain itu penatalaksanaan medis lainnya adalah dengan pemasangan kateter, tujuan pembedahan membuat normal perkemihan, fungsi seksual dan perbaikan untuk hosmetik pada penis, serta infus dengan cairan Nacl 0,9 % 30 tetes/menit
2.      Penatalaksanaan keperawatan yaitu perawatan luka dengan cairan Nacl 0,9 % dengan campuran garamicin 80 mg, dan betadine 10 %, serta perawatan kateter dan infus dengan cairan Nacl 0,9 % betadine 10 %.

D.     Pengkajian
 Pengkajian menurut suriadi (2001) dan Rita Yuliana adalah sebagai berikut :
1.      Fisik :
         a.      Lihat lokasi meatus
         b.      Bentuk penis (adanya lekukan pada ujung penis, melengkungnya, penis kebawah dengan /tanpa ereksi).
         c.      Terbukanya uretral pada ventral
         d.      Palpasi abdomen untuk melihat distensi bladder /pembesaran pada ginjal
         e.      Kaji fungsi perkemihan
         f.       Pengkajian setelah pembedahan, pembengkakan penis, perdarahan, disuria drainage.
         g.      Kaji ringkat kecemasan dan tingkat pengetahuan keluarga.

2.      Mental
         a.      Sikap pasien waktu diperiksa
         b.      Sikap pasien ® rencana pembedahan.

3.      Keluarga
         a.      Tingkat kecemasan
         b.      Tingkat pengetahuan.

E.     Perencanaan
1.      Pre Operasi
         a.  Ketakutan /kecemasan b.d hospitalisasi dan rencana pembedahan.
Tujuan : menurunkan kecemasan klien dan keluarga.
               Intervensi :
1)      Jelaskan kepada keluarga tentang : Tujuan pembedahan .Pemeriksaan fisik, Pemeriksaan laboratorium, Puasa 4 jam sebelum operasi , Pemberian obat premedikasi sebelum operasi, Peralatan yang digunakan setelah operasi.
2)      Jelaskan kepada keluarga tentang perlunya mengikuti petunjuk perawatan.
3)         Beri kesempatan pada keluarga untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan pembedahan.
2.      Post Operasi
a.  Nyeri berhubungan dengan post prosedur operasi dan kateter invasi.
Tujuan : menurunkan rasa nyeri.
Kriteria :
                  1). Tidak ada keluhan nyeri.
                  2). Tidak rewel dan nangis.
                  Intervensi :
                  1). Kaji tingkat nyeri dengan skala (1-10).
                  2). Observasi aliran urin, catat ukuran dan tekanan.
                  3). Monitor TTV.
                  4). Hindari tekanan pada area operasi.
                  5). Anjurkan untuk berbaring dalam posisi yang memungkinkan otot  
                        menjadi relaks.
                  6). Beri kesempatan orang tua berada di dekat anaknya.
                  7). Berikan pengobatan seperti analgetik sesuai program.
b.   Perubahan Eliminasi urin berhubungan dengan trauma operasi dan kateter clamping.
Tujuan : Output urin normal limitid selama 24 jam operasi
Kriteria :
                  1). Produk urin lancar.
                  2). Tidak terdapat perdarahan intra urethra.
                  Intervensi :
                  1). Maintain ketat intake – output.
                  2). Monitor output.
                  3). Check kepatenan koteter.
                  4). Check warna produksi drainage.
c.   Resiko infeksi berhubungan dengan pemasangan kateter
Tujuan : Infeksi tidak terjadi.
Kriteria :
                  1). TTV dalam batas normal.
                  2). Tidak ada tanda-tanda infeksi seperti merah, bengkak dan panas.
                  3). Hasil laboratorium leukosit dalam batas normal.
                  Intervensi :
                  1). Obsercasi tanda-tanda vital.
                  2). Kaji tanda-tanda pada daerah operasi.
                  3). Jaga luka operasi tetap berusaha dan kering ® hindari kontaminasi dengan feces dan urin.
                  4). Jaga kebersihan kulit alat kelamin.
                  5). Gunakan teknik aseptik /antiaseptik dalam perawatan luka dan kateter.
                  6). Berikan antibiotik sesuai program.
d.  Kurangnya pengetahuan orang tua berhubungan dengan perawatan setelah operasi.
Tujuan : Pengetahuan keluarga terpenuhi.
Kriteria :
                  1). Keluarga mengerti tentang perawatan setelah operasi.
                  2). Keluarga dapat menjelaskan kembali bagaimana perawatan setelah operasi.

Intervensi :
               1). Kaji tingkat pengetahuan orang tua.
                  2). Gunakan gambar-gambar atau boneka untuk menjelaskan prosedur pemasangan kateter menetap, mempertahankan kateter monitor urin, warna dan kejernihan.
                  3). Jelaskan tentang pengobatan yang diberikan, efek samping dan dosis serta waktu pemberian.
                  4). Ajarkan untuk ekspresi perasaan dan perhatian tentang kelainan pada penis.
                  5). Ajarkan orang tua untuk partisipasi dalam perawatan sebelum dan sesudah operasi.
e.   Risiko injuri berhubungan dengan pemasangan kateter dan pengangkatan kateter.
Tujuan : Injuri tidak terjadi.
Kriteria :
               1). Injuri tidak terjadi.
Intervensi :
                  1). Pastikan kateter pada anak terbalut dengan benar dan tidak lepas.
                  2). Gunakan restrain /pengaman yang tepat pada saat anak tidur atau gelisah.
                  3). Hindari alat-alat tenun /yang lainnya yang dapat mengkontaminasi kateter dan penis.
F.      Pelaksanaan.
Implementasi menurut Potter and Patricia (2005) adalah merupakan komponen dari proses perawatan, dimana tindakan yang dilakukan untuk mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan, Implementasi sifatnya berkesinambungan dan interaktif dengan komponen lain dari proses keperawatan, komponen implementasi dari proses keperawatan mempunyai 5 tahap ; mengkaji ulang, menelaah dan memodifikasi rencana asuhan keperawatan yang sudah ada, mengidentifikasikan area bantuan, mengimplementasikan intervensi keperawatan, dan mengkomunikasikan intervensi, implementasi dari asuhan keperawatan memerlukan keterampilan, pengetahuan tambahan dan keterampilan interpersonal. Metode dalam implementasi dapat berubah membantu dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Penyuluhan kesehatan digunakan untuk menyajikan prinsip, teknik dan prosedur yang tepat dari perawat kepada klien dan menginformasikan status. Kesehatan mereka. Metode konseling digunakan untuk membantu klien. Menggunakan proses pemecahan masalah untuk mengenali dan menangani stress dan memfasilitasi hubungan interpersonal antara klien, keluarga dan tim keperawatan, tindakan keperawatan untuk mencapai tujuan yang teraupetik mencangkup kompensasi terhadap reaksi tindakan preventif, teknik yang tepat untuk prosedur tindakan menyelamatkan lingkungan yang kondusif, memberikan perawatan untuk  menyesuaikan kebutuhan klien dan menstimulasi serta memotivasi klien.


G.     Evaluasi.
Evaluasi menurut Potter and  Patricia (2005) merupakan proses keperawatan yang mengukur respon klien terhadap tindakan keperawatan dan kemajuan kearah pencapaian tujuan. Perawat mengevaluasi apakah perilaku /respon klien mencerminkan suatu kemunduran /kemajuan dalam diagnosa keperawatan /pemeliharaan status kesehatan. Selama evaluasi perawat memutuskan apakah proses keperawatan sebelumnya telah efektif dan menelaah respon klien dan membandingkan dengan perilaku yang disebutkan dalam hasil yang diharapkan selama evaluasi secara kontinue mengarahkan kembali asuhan keperawatan kearah terbaik untuk memenuhi kebtuhan klien. Setelah perawat menentukan bahwa hasil yang diharapkan dan tujuan telah tercapai, perawat mengklarifikasikan evaluasi dengan klien jika perawat dan klien setuju. Bahwa hasil yang diharapkan telah dipenuhi, perawat menghentikan rencana asuhan keperawatan tersebut dan asuhan keperawatan dapat didokumentasikan tetapi ketika tujuan asuhan keperawatan tidak tercapai maka perawat mengidentifikasikan variabel/faktor-faktor yang mengganggu pencapaian tujuan, biasanya perubahan dalam kondisi, kebutuhan dan kemampuan klien memerlukan perubahan intervensi, sehingga perawat menggunakan intervensi baru dan merevisi hasil untuk memenuhi tujuan asuhan. Ketika tujuan masih sesuai tetapi belum terpenuhi perawat mungkin merubah tanggal evaluasi untuk memungkinkan lebih banyak waktu ketika ada kegagalan dalam mencapai tujuan apapun alasannya keseluruhan urutan proses keperawatan diulang untuk menentukan perubahan yang harus dibuat untuk meningkatkan, mempertahankan /memulihkan kesehatan klien.

H.     Pertumbuhan dan perkembangan bermain dan dampak Hospitalisasi dan Nutrisi adalah :
1.      Pertumbuhan dan perkembangan.
Menurut Jupi Supartini (2004). Pertumbuhan adalah sebagai suatu peningkatan jumlah dan ukuran pertumbuhan berhubungan dengan perubahan pada kuantitas yang maknanya terjadi pada jumlah dan ukuran sel tubuh yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan ukuran dan berat seluruh bagian tubuh. Pertumbuhan bisa diukur dengan ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm, meter). Sedangkan perkembangan adalah perubahan terjadi secara bertahap dari tingkat yang paling rendah ketingkat yang paling tinggi dan kompleks melalui proses maturasi dan pembelajaran. Perkembangan anak pada usia 11-12 tahun adalah perode sekolah, pada periode ini perkembangan fisik lebih cepat dan meningkat.

 2.     Bermain
Bermain mempunyai beberapa definisi salah satunya adalah aktivitas dimana anak dapat mempraktekkan dan menyempurnakan keterampilan memberikan ekspresi terhadap pemikiran menjadi kreatif dan mempersiapkan diri untuk berperan dalam bermain. Menurut Yupi Supartini (2004) bermain adalah kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan anak sehari-hari karena bermain sama dengan bekerja pada orang dewasa, yang dapat menurunkan stres anak, media yang baik bagi anak adalah untuk belajar mengenal dunia sekitarnya dan pentingnya untuk meningkatkan kesejahteraan mental serta serta sosial anak. Anak pada usia 11-12 tahun sudah sangat abstrak dan simbolik, anak menikmati aktivitas santai bersama teman sebaya (misalnya permainan kasti), permainan cenderung memisahkan kedua lawan jenis, mainan. Rough and tumble adalah ciri khas permainan luar rumah yang tidak terstruktur, minat pribadi, aktivitas dan hobi berkembang pada saat ini.

3.      Dampak Hospitalisasi
Dampak Hospitalisasi pada anak usia sekolah 6 sampai 12 tahun pada perawatan anak di RS yaitu anak merasa khawatir berpisah dengan teman sebaya sekolah, takut kehilangan keterampilan, kesepian, sendiri. Reaksi terhadap nyeri adalah anak berusaha mengontrol dengan tingkat laku yaitu menggigit bibir ; mengenggam tangan erat, mengamati yang dikatakan perawat, ingin tahu alasan tindakan terhadap dirinya, anak takut pada waktu tidur.

4.      Nutrisi
Menurut Yopi Supartini (2004) kebutuhan untuk anak dengan usia 11 sampai 12 tahun adalah 95 Kkal/Kg Bb. Ada beberapa karakteristik yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi yang perlu di perhatikan pada anak usia sekolah adalah nafsu makan bertambah dan anak mulai menyukai jenis makanan, waktu makan adalah kesempatan yang baik bagi anak untuk belajar dan bersosialisasi dengan keluarga.


DAFTAR PUSTAKA

Markum. (1901). Buku Ajar I Ilmu Kesehatan Anak ; Jilid I. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI.

Ngastiyah. (2005). Perawatan Anak Sakit, Edisi 2. Jakarta : EGC.

Price,Sylvia Anderson. (2001). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses Penyalur,
Edisi 6. Jakarta : EGC.

Supartini,Yupi. (2004). Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta : EGC.

Suriadi dan Rita Juliani. (2001).Asuhan Keperawatan Pada Anak, edisi I. Jakarta : PT. Fajar Interpratama.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar